Rencana Penelitian

Akhirnya di semester kedua ini, dengan ditetapkannya jadwal presentasi di seminar internal lab, officially saya sudah harus mulai melakukan penelitian. Semester pertama lalu saya bukan tidak melakukan apa-apa. Di masa itu selain menyibukkan diri dengan mata kuliah yang seabrek, saya mencoba menyiapkan tema riset dan mengikuti kontes yang diadakan society di bidang saya. Tapi sekarang, tidak ada alasan lagi untuk tidak memulai riset.

Oh ya. Postingan kali ini bukan berarti saya ingin memberi tips untuk membuat rencana penelitian. Justru saya yang butuh nasehat. Saya hanya akan memaparkan pengalaman pribadi saya berkaitan dengan membuat rencana penelitian. Jadi buat anda yang berharap banyak, silakan tutup page ini dan tanya mbah google. Tapi kalau ingin yang santai kayak di pantai dan slow kayak di pulow, silakan lanjutkan membaca.

Mencari masalah

Di dunia “nyata” kita diajarkan untuk jangan cari-cari masalah. Kalau ngga mau digonggong, ekor anjing ya jangan diinjak, katanya. Tapi di riset, terutama di universitas, kita justru harus cari masalah, dan masalah itu harus original. Maksud dari original adalah bahwa tidak ada orang lain di dunia ini yang pernah mengerjakan hal yang sama. Ingat, tidak ada seorang pun! Dengan melakukan riset yang original, harapannya kita berkontribusi pada ilmu pengetahuan. Namun begitu susahnya mencari masalah yang original ini sampai katanya setengah lebih dari riset adalah cari masalah. Di setiap jenjang pendidikan (S1, S2, S3), semua dituntut untuk bisa original, walaupun masing masing berbeda dalam kadar originalitas maupun kadar kontribusi pada ilmu yang kita tuntut. Waktu S1 tingkat 4, beberapa kali tema yang saya ajukan tidak dianggap sebagai riset, tapi dibilang oleh sensei seolah hanya sekedar mengerjakan soal akhir bab karena walaupun apa yang dikerjakan agak sulit, tapi tidak ada nilai originalitas di dalamnya.

Untuk originalitas, saya yakin tak ada beda pendapat di antara semua peneliti di dunia ini. Semua setuju bahwa riset harus original. Tapi ada satu hal lagi yang kadang sering dilupakan. Yaitu apa makna riset kita secara keilmuan maupun aplikasi di kehidupan nyata. Kalau science, mungkin boleh saja kalau makna riset kita adalah originalitas dalam keilmuan, seperti misalnya di bidang astronomi, ada teman yang risetnya menemukan orbit planet, atau planet baru. Tapi untuk engineering, kita harus tanamkan dalam diri, riset ini 20-30 tahun ke depan mau dipake untuk apa, dan apa kontribusi kita untuk umat manusia. Sebagaimana motto Fakultas Teknik di kampus saya, “It’s not Politics, it’s not Rocks that change the world. It is Engineering.  Jadi kalau teman-teman ada di bidang engineering, pikirkan aplikasi ketika merencanakan penelitian.

Siap patah hati

Simbah Einstein bilang, “If we knew what it was we were doing, it would not be called research. ”Riset adalah melakukan sesuatu yang baru, yang hasilnya tidak diketahui. Kalau sudah tahu hasilnya, itu bukan riset. Karena kita sedang melakukan hal yang hasilnya kita belum tahu, sebagaimana ketika kita mau menembak gebetan yang perasaannya kita ngga tau (#eaaa) kita harus siap gagal. Di lab saya, untuk mahasiswa master, idealnya semua ide harus dari mahasiswa, dan professor pembimbing sifatnya hanya mengkoreksi (istilah kerennya membantai). Pada tahap awal riset, ketika mengajukan proposal riset ke dosen pembimbing pun kita sudah harus menyiapkan hati untuk ditolak. Dan kecenderungannya, semakin challenging tema yang kita ajukan, biasanya makin besar kita ditolak, dan semakin besar juga gagal di tengah jalan. Teman seangkatan saya baru-baru ini berfikir ide yang besar, membuat framework untuk energy system planning. Saya sendiri paham karena ketika beliau memikirkan ide ini saya ikut nimbrung. Saya tahu itu ide yang bagus, besar, tapi susah. Dan benarlah firasat saya. Begitu diajukan ke professor, langsung ditolak. Tapi saya selalu kagum pada kegigihan beliau. Tema riset yang diajukan ditolak, langsung dia bangkit untuk mencari tema riset baru berdasarkan advice dari pembimbing.

Untuk saya sendiri, saya baru belajar untuk mengerjakan riset secara SMART (Specific Measurable Attainable Realistic Timely). Memang kerja jadi jelas, tapi ada efek samping dari pola saya karena ada kecenderungan untuk tidak memilih topic-topik yang challenging. Karena tema yang saya ajukan attainable dan realistic itu mungkin ketika saya mengajukan tema riset, professor langsung, “Saya setuju, tolong di teruskan” Dan itu berarti perjalanan riset saya secara resmi dimulai.

Mohon doanya ya kawan-kawan.

Posted in Fun Times, Sci-Tech | 1 Comment

Berkarya di tanah air, kenapa ngga?

Belajar di luar negeri masih jadi impian pelajar dan mahasiswa di Indonesia. Saya sangat bersyukur saya salah satu orang yang beruntung bisa mengenyam kesempatan ini. Namun dari kesempatan berinteraksi dengan teman-teman di Indonesia saat pulang dan juga hasil diskusi dengan beberapa teman di sini, saya jadi berpikir kadang orang negeri kita masih terlalu mendewa-dewakan, overestimating pada pengalaman belajar di luar negeri.

Memang benar banyak sekali keuntungan yang akan kita dapat dengan study abroad ke negara maju. Saya bisa berinteraksi dengan para professor yang top di bidangnya, belajar dan riset di lingkungan yang sangat mendukung, menikmati infrastruktur transportasi, komunikasi yang canggih, life style ala negara maju dan keuntungan keuntungan lain. Dari pengalaman sejarah Indonesia pun, kita tahu tokoh-tokoh seperti B.J. Habibie yang pernah mengenyam pendidikan di luar negeri dan menjadi orang hebat di tanah air. Fasilitas-fasilitas yang kita dapat ketika berada di lembaga riset dan pendidikan negara maju memang mendukung kita untuk menjadi seorang expert di bidang yang kita inginkan.

Tapi hukum alam menyatakan no free lunch. Di balik kemudahan yang kita dapat dari pengalaman di luar negeri, ada “harga” yang harus kita bayar. Tentunya “harga” itu bervariasi antara setiap individu. Tapi yang saya rasakan sendiri, misalnya karena saya sudah abroad sejak S1, saya jadi kehilangan waktu-waktu emas di himpunan mahasiswa (HM). Karena di sini tidak ada HM, kadang saya merasa iri ketika teman-teman yang S1 di Indonesia ketika mereka menceritakan lika-liku di HM mereka di Indonesia. HM sangat penting untuk mengasah softskill mahasiswa. Selain itu, karena saya sudah lumayan lama (5.5 tahun) di luar negeri, waktu saya pulang kemarin saya merasa saya sudah mulai kehilangan sense penting seperti sense untuk menyeberang jalan sembarangan, menawar harga di pasar, sense berinteraksi dengan pedagang-pedagang kaki lima dan sensesense lain yang sangat diperlukan untuk bisa survive di negara kita yang masihganas dan penuh sikut menyikut. Tidak heran ketika mendengar kisah peneliti yang sudah sukses di negeri rantau tapi begitu kembali ke instansi mereka di Indonesia, mereka kalah oleh arus di Indonesia dan –mohon maaf-menjadi “biasa-biasa saja” sekalipun di negeri rantau mereka mereka pernah jadi orang top.

Untuk memberikan ilustrasi tentang perlunya pertimbangan yang masak ketika memutuskan untuk study abroad, saya ingin cerita tentang seorang sahabat saya. Dia dari dulu selalu saya kagumi intelegensi dan integritasnya. Dia termasuk orang terpintar, dari segi IP, di angkatannya di ITB. Selepas di lulus dari kampus, dia mencoba apply beberapa program beasiswa ke luar negeri. Entah kenapa, takdir Allah berkata lain, interview yang dia ikuti tidak memberi hasil sesuai yang dia inginkan. Di saat yang sama dia juga mengembangkan usaha dari nol. Tidak perlu saya sebut jenis usahanya karena nantinya akan menunjuk ke orang yang bersangkutan. Belakangan saya chatting dengan dia, dia bercerita bahwa usahanya sudah mulai berkembang, dengan bekal kegigihan dan engineering-sense yang memang aku akui sejak dulu dia mulai membangun pabrik sendiri, menyewa karyawan, dan omzetnya sudah menginjak angka puluhan juta per bulan. Kalau dulu dia lulus dan berangkat ke luar negeri, mungkin takdir berkata lain. Saya sangat berharap jalan hidupnya yang sekarang sebagai seorang pengusaha di tanah air memang yang terbaik bagi dia, keluarganya, dan Indonesia.

Maksud posting kali ini bukan untuk menggurui dan menciutkan semangat teman-teman yang ingin study abroad. Justru saya ingin menyemangati agar teman-teman bisa melanjutkan studi ke luar negeri tapi tentunya dengan perencanaan yang cukup matang. Mari kita pikirkan lagi untung ruginya, dan juga career options setelah lulus nanti, apakah mau pulang lagi atau masih mau stay di luar negeri dalam jangka waktu yang lama. Kalau setelah dipikir-pikir ternyata lebih prospektif untuk berada di tanah air, mengapa harus ke luar negeri?

*kalau ada saran/kritik silakan🙂

Posted in Uncategorized | 5 Comments

Trip ke Sendai

Alhamdulillah setelah selama di Jepang aku belum pernah ke Sendai, akhirnya aku diberi kesempatan untuk trip ke kota yang tahun lalu sempat rusak oleh bencana gempa dan tsunami ini. Kedatanganku kali ini sebenarnya dalam rangka mengikuti konferens dalam negeri yang berkaitan dengan bidangku, chemical engineering. Karena itulah lab tempat aku belajar sekarang memberi support transportasi dan akomodasi.

Tentang konferens

Nama konferens yang aku hadiri kali ini adalah Society of Chemical Engineering of Japan 44th Fall Meeting (化学工学会 第44秋季大会). Di dalamnya, aku diberi kesempatan untuk presentasi di sesi 11th Process Design Student Contest, kontes rancang pabrik antar mahasiswa teknik kimia seluruh jepang. Di kontes ini ada dua kategori, yaitu process simulation category yang menuntut pesertanya untuk menguasai process simulator seperti Aspen Hysys, Aspen plus, dan ada lagi process design category yang tidak membutuhkan process simulator, lebih bebas dan mengandalkan kreatifitas peserta. Tahun ini, produksi metil-etil-keton (MEK) dari 2-butanol jadi soal di process simulation category, dan produksi propilen dari sembarang bio-based material jadi soal untuk process design category. Sudah sejak dari S1 tahun ketiga aku ingin sekali ikut kontes ini, namun karena satu lain hal, baru tahun ini aku bisa ikut. Biarpun tim kami belum bisa mendapat juara satu, aku sudah merasa sangat bersyukur bisa meraih juara dua.

Aku mungkin terlalu sibuk mempersiapkan slide dan naskah presentasi yang dijadwalkan hari terakhir (hari ketiga). Di hari pertama dan kedua, aku coba mendengarkan presentasi orang-orang lain, termasuk presentasi member labku yang sekarang. Aku duduk di tempat duduk paling belakang, memperhatikan pembicara memberikan kuliah sambil sesekali menatap monitor notebook dan menghafal naskah. Karena ini adalah pengalaman pertamaku mengikuti konferens akademik, pengalaman hadir di konferens ini jadi sangat berharga. Aku belajar banyak tentang apa yang sekarang sedang “in” orang-orang di bidang yang sedang kupelajari, yaitu process systems engineering. Banyak presentasi yang berhubungan dengan softsensor, dan integration engineering. Walaupun kadang tak sepenuhnya aku mengerti, semuanya menarik!

Dari percakapan dengan anggota lab yang sudah lebih berpengalaman, konferens tahunan ini termasuk konferens yang besar. Ratusan sesi diselesaikan dalam 3 hari, dan Tohoku University Kawauchi Campus jadi terlihat makin ramai oleh pendatang dari seluruh jepang, baik dari universitas maupun dari industri Di namelist presenter, kulihat beberapa nama orang Indonesia dan Malaysia. Orang Indonesia, mungkin sama seperti aku, orang-orang yang berafiliasi ke universitas jepang. Tapi ada orang Malaysia yang afiliasinya jelas-jelas tertulis universitas Malaysia. Salut. Mereka rela keluar kocek ke jepang demi pengakuan secara akademis. Semoga anak-anak ITB, ITS, UI dan universitas-universitas lainnya nanti bisa ke sini untuk konferens, dan membuktikan pada orang Jepang bahwa riset kita bukan ecek-ecek.

Tentang Sendai dan Tohoku University

Sejujurnya, karena aku terlalu sibuk dengan persiapan presentasiku, aku belum sempat jalan-jalan. Ajakan senior untuk pergi ke Matsushima, salah satu dari tiga pemandangan indah di jepang itu pun kutolak. Ya iya lah, mereka sudah tak ada beban karena presentasi mereka sudah selesai. Aku hanya sempat keliling kampus Tohoku university yang sangat luas, membentang di lereng gunung. Aku sangat suka dengan kampus ini. Gedungnya banyak yang artistik dan terawat. Mungkin untuk orang-orang yang tidak terbiasa naik sepeda/sepeda motor, jadi sedikit tidak convenient karena jarak antar tempat jauh. Tapi selebihnya, kampus ini sudah sangat praktis karena toko-toko dalam kampus Tohoku university sudah lengkap. Ada barbershop, toko kacamata dll di dalam kampus. Intinya, semua yang mendukung penghuni kampus agar bisa belajar dan riset dengan tenang tanpa harus ke downtown sudah tersedia. Ohya, ada menu halal di kantin Tohoku University dan menunya lebih variatif dibanding di kampusku. Melihat kampus Tohoku university yang berada di gunung namun lengkap, aku jadi ingat salah satu kampus almamaterku Tokyo Tech Suzukakedai Campus yang sama-sama di tempat yang kurang convenient. Semoga nantinya kampus Suzukakedai nantinya selengkap dan se-convenient Tohoku University.

Sendai sendiri adalah kota besar, walaupun tidak sebesar Tokyo atau Osaka, Sendai adalah kota terbesar di Tohoku District. Bus adalah sarana transportasi utama di sini, dan unit bus di sini cukup banyak, menjangkau berbagai daerah dan jadwalnya sampai malam (jam 23). Pusat perbelanjaan juga cukup banyak. Tohoku University sebenarnya juga tidak begitu jauh dari pusat kota, sehingga mahasiswa di sini bisa main-main ke pusat kota.

Intinya saya suka dengan Sendai sebagai tempat tinggal. Teman-teman mahasiswa Indonesia di sini pun kelihatan betah di sini. Hanya saja, di sini tidak ada pusat-pusat industri seperti halnya di Tokyo, Yokohama, Nagoya dan Osaka sehingga kecil kemungkinannya aku tinggal di sini ke depannya.

Suasana Kantin

Suasana di Coop

Tohoku University Kawauchi Campus

Sendai Station

Sendai Station

Posted in Fun Times | 1 Comment

Pelajaran dari Internship: Penggunaan Waktu

Di Furukawa Electric, untuk karyawan kantor diterapkan jam kerja “core time” di mana karyawan diwajibkan untuk ada di dalam kantor selama 8 jam, tapi jam datang dan pulang dibebaskan asal antara jam 10 sampai jam 15 ada di kantor. Di sini lembur juga dibatasi. Paling 1-2 jam lembur, lalu pulang. Artinya jam kerja di kantor relatif lebih sedikit dibandingkan perusahaan-perusahaan di Tokyo yang aku sering saksikan para karyawannya bekerja sampai kereta terakhir. Bagusnya adalah jam kerja di sini manusiawi, dan karyawan diberi kesempatan untuk bersama keluarga maupun refreshing setelah jam kerja. Namun ada konsekuensi lainnya yaitu sekalipun jam kerja yang sedikit,  target tetap tinggi, jadi efisiensi penggunaan waktu di kantor jadi sangat menentukan. Selama di sini aku tidak pernah melihat orang nyantai-nyantai, ngopi-ngopi selain jam istirahat siang. Karena aku ada di bagian Production Technology Development, semua orang di sini kalau tidak deskwork ya eksperimen atau meeting.

Sejujurnya aku mendapat pelajaran dari penggunaan waktu di sini karena di research group di universitas, aku biasa pulang malam, namun karena manajemen waktu kurang bagus, kadang tidak ada hasil dari itu. Sering aku biarkan konsentrasi terganggu oleh browsing internet, ngobrol ngalor ngidul dengan teman, dan sebagainya. Pengalaman di Furukawa electric ini membuat aku berfikir untuk menggunakan waktu sebaik mungkin.

Salah satu waktu terbaik yang aku sering sia-siakan di kehidupan laboratorium di universitas adalah waktu pagi. Di Furukawa aku diajarkan oleh senior, 「大事な仕事は午前中にやれ」, yang artinya kerjakanlah pekerjaan-pekerjaan penting di pagi hari. Konsentrasi masih tinggi, perut belum kekenyangan, pikiran juga masih fresh. Waktu siang, kita sudah ngantuk karena makan siang, dan waktu malam, badan sudah mulai capai. Di lab di universitas aku selalu datang jam 10:30 ke atas, jadi waktu pagi hari tinggal 1.5 jam. Amat disayangkan. Ok, selesai internship lagi aku akan coba optimalkan penggunaan waktu pagi.

Penggunaan waktu yang efektif akan jadi penting terutama nanti jika aku sudah berkeluarga. Tidak mungkin aku menerapkan cara kerja yang aku terapkan sekarang di lab nanti setelah punya keluarga. Itu berarti melalaikan kewajiban rumah tangga. Dosa, masuk neraka ntar (:-D ). Apalagi, tidak ada perusahaan yang menginginkan karyawannya lembur karena itu berarti menambah beban mereka untuk menggaji lembur. Lembur, juga disinyalir oleh beberapa ahli (maaf lupa url sumbernya) beresiko mematikan kreatifitas kerja, karena badan sudah terlalu capai.

Oke, mungkin ini dulu tentang penggunaan waktu. Have a nice Saturday🙂

Posted in Tips-Trick | Tagged | 2 Comments

Menjadikan Bacaan Jadi Milik Kita

Ada yang bertanya pada saya bagaimana saya bisa membaca buku atau artikel, lalu di kemudian hari menceritakan bacaan seolah saya sudah paham, bahkan bisa mengembangkan isi yang saya baca. Sejujurnya saya juga masih beginner untuk bidang baca-membaca ini, tapi kali ini akan saya coba untuk meng-share pengalaman saya dalam hal membaca. Ada dua tips yang saya ingin share supaya apa yang kita baca menjadi “milik” kita yaitu:

  1. Tentukan tujuan membaca

Seringkali kita membuka bacaan tanpa tujuan, lalu kita ikut arus pikiran si penulis. Untuk artikel-artikel pendek, kita mungkin masih bisa tahan, tapi semakin panjang bahan yang kita baca, makin mudah kita lupa, dan kita jadi seperti buang waktu karena tidak ada informasi yang masuk. Jadi pertama, kita tentukan tujuan apa kita membaca. Misalnya kita ambil contoh buku autobiografi. Sebelum kita membuka buku tersebut, buatlah daftar pertanyaan, tidak perlu ditulis, di dalam pikiran kita. Contoh biografi Steve Jobs, kita bayangkan pertanyaan, “apa karakter steve jobs yang membuat Apple bisa menjadi perusahaan raksasa seperti sekarang” Sambil membaca kita cari-cari, kata-kata mana yang relevan dengan pertanyaan tersebut. Otomatis informasi-informasi penting, karena memang kita cari, akan nempel di otak kita, dan informasi-informasi yang kurang relevan akan hilang. Tidak masalah ada informasi yang terlupa kalau memang itu tidak penting.

  1. Bacalah sambil mengkaitkan dengan database ilmu kita.

Untuk membuat bacaan yang kita baca jadi pengetahuan bagi kita, sambil baca, coba kita pisahkan mana yang memang baru dan mana yang sudah kita tahu. Yang sudah kita tahu, kita lewati begitu saja, tapi begitu kita temukan pengetahuan yang baru, kita gali-gali harddisk di otak kita, lalu kita coba untuk berargumen dengan si pengarang.

Maaf mungkin agak abstrak penjelasannya, jadi saya coba beri contoh membaca autobiografi lagi. Akhir-akhir ini saya membaca autobiografi Mahathir Mohamad, mantan PM di Malaysia. Begitu tiba di pembahasan teori beliau tentang Negara Malaysia sebagai negara bagi orang melayu, langsung saya banding-bandingkan dengan kasus Negara Indonesia yang walaupun didominasi melayu tetapi lebih adil bagi semua suku, atau seperti Israel dan Jepang yang menisbahkan negara pada satu suku tertentu (ide ini debatable yah J) Itu saya lakukan sambil membaca buku beliau, dan pikiran pikiran seperti itulah yang membuat aktifitas membaca saya jadi lebih hidup, walaupun pace membaca saya jadi lambat.

Oke. Semoga jadi referensi. Saya sendiri masih belajar membaca, jadi kalau ada yang punya tips lain silakan di-share.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Internship di Furukawa Electric: Motivasi

Alhamdulillah saya berhasil melalui hari ketiga untuk internship di perusahaan ini. Saatnya saya mulai share apa yang saya dapat di sini. Kali ini tentang masalah motivasi. Awalnya motivasi saya untuk memilih perusahaan ini adalah karena saya sudah berencana untuk pulang idul fitri tahun ini,dan itu membuat lowongan internship yang bisa saya apply dengan bantuan rekomendasi dari jurusan saya jadi terbatas. Furukawa electric termasuk perusahaan yang bisa saya apply. Selain alasan itu dan juga bahwa saya mendapat bayaran dari internship (sori bos, mahasiswa lapar ini masih pengen tambahan uang jajan :-D) ini ada beberapa hal yang menarik dari perusahaan ini yaitu:

  1. Furukawa Electric sebagai perusahaan produsen kabel

Perusahaan ini memiliki sejarah panjang sejak 1884 (orang HRD selalu emphasize angka ini😀 )di bidang pengolahan logam, produksi kabel, wire, optic fiber, dan banyak bidang pengolahan banyak lagi produk-produk dengan panjang berkilometer-kilometer. Yang selalu dititikberatkan dari cara produksi barang seperti itu adalah bagaimana cara agar barang tersebut bisa dibuat secara kontinyu dan efisien. Maksud kontinyu di sini adalah ketika suatu bahan selesai di satu tahap, dia akan langsung masuk ke tahap berikutnya. Misalnya ketika kita membuat sebuah kabel, pertama kita kita buat kawat tembaganya, lalu kita lapisi dengan misalnya lapisan anti korosi. Alangkah tidak efisiennya jika kita buat kawat tembaganya sampai habis, kita gulung kabel, lalu gulungan itu digelar lagi untuk diberi lapisan. Maka di perusahaan ini, kabel yang keluar dari furnace langsung masuk ke proses pelapisan, baru setelah itu digulung.

Prinsip produksi secara kontinyu ini juga pernah saya pelajari di bidang saya, chemical engineering. Proses-proses kimia dengan skala besar umumnya mengadopsi sistem produksi kontinyu demi efisiensi energi dan otomatisasi. Lalu ada juga bahan fine chemical seperti farmasi yang biasanya mengadopsi sistem batch untuk memperoleh kemurnian tinggi. Ketika kita akan mengembangkan satu proses kimia baru, kita akan mempertimbangkan apakah kita akan mengadopsi sistem batch atau kontinyu. Saya sendiri baru melihat proses yang memiliki kecenderungan kontinyu yang tinggi di Furukawa Electric ini. Ketika akan mengembangkan satu proses baru di perusahaan ini, langsung dipikir bagaimana cara meng-kontinyu-kan proses tersebut. Nalar para peneliti di sini sangat kuat untuk hal ini dan saya merasa belajar banyak dari mereka.

2. Bidang yang jarang disentuh di jurusan di universitas

Bidang saya, chemical engineering adalah bidang yang maju bersamaan dengan kemajuan pengolahan bahan bakar fosil, mulai dari refinery sampai produksi energi dan juga pembuatan bahan-bahan kimia yang berasal dari bahan akar fosil (petrokimia). Akibatnya, prinsip-prinsip yang kami pelajari biasanya disertai dengan aplikasi di dunia petrokimia dan energi. Jarang sekali prinsip-prinsip teknik kimia diarahkan ke pengolahan logam seperti yang sekarang dikerjakan oleh Furukawa Electric. Dengan keyakinan saya bahwa prinsip-prinsip teknik kimia bisa dipakai di banyak bidang termasuk bidang-bidang yang digeluti Furukawa Electric, saya apply perusahaan ini. 3 hari di sini, saya sudah mulai bisa membuktikan keyakinan saya tersebut.

3. Concern Furukawa Electric pada karyawan yang beragama Islam

Ini termasuk faktor utama yang membuat  melirik perusahaan ini. Jarang ada perusahaan jepang yang secara terang-terangan mengumumkan niatnya untuk memberi perhatian khusus pada karyawan yang beragama Islam. Mungkin ini berkat mulai tahun ini ada dua orang seniorku yang aktifis di masyarakat muslim di Kanto area yang bergabung di perusahaan ini. Sejak  berkontak dengan pihak HRD, mereka sudah bilang untuk menyediakan tempat sholat, memperhatikan makanan, puasa, termasuk juga memberi izin saya untuk memperpanjang jam istirahat di hari jumat untuk cari tempat sholat jumat di kota lain. Akhir-akhir ini, Jepang, yang mulai menyadari bahwa ekonomi mereka di masa depan akan tergantung salah satunya pada negeri-negeri muslim mulai memperlihatkan perhatian mereka pada cara hidup muslim, termasuk ekonomi syariah, makanan halal, dan juga seperti halnya yang dikerjakan oleh Furukawa Electric ini agar karyawan muslim bisa dengan tenang bekerja di tempat mereka.

Kadang agak sedih rasanya mendengar kenyataan di anak perusahaan jepang di Indonesia, para petinggi orang Indonesia di situ sering melonggarkan waktu sholat, makanan, dan minuman keras ketika berurusan dengan expat jepang yang sedang lawat ke Indonesia maupun ketika orang Indonesia ini berdinas ke Jepang. Alasan mereka menghormati orang Jepang. Padahal selama saya di Jepang, saya sering membuktikan bahwa orang Jepang sering lebih hormat pada orang-orang yang menjaga prinsipnya. Yang penting adalah bagaimana kita mengkomunikasikan prinsip Islam yang kita anut, tentunya itu membutuhkan pemahaman atas Islam itu sendiri.

4. Furukawa Electric sebagai perusahaan infrastruktur

Di penjelasan tentang company profile oleh orang-orang HRD, saya baru tahu bahwa kabel-kabel di NTT (Nippon Telephone and Telecomunication, semacam Telkom nya Jepang), dan JR (Japan Railways), Tepco (PLN di Jepang) disupply oleh perusahaan ini, dan untuk beberapa produk parts di computer seperti cooler, Furukawa Electric adalah pemegang share terbesar. Indonesia, yang sekarang pelan tapi pasti sedang bergerak memperbaiki diri termasuk infrastrukurnya, cepat atau lambat akan membutuhkan beribu-ribu kilometer kabel listrik, optic fiber dan sebagainya. Saya jadi berpikir mungkin dengan masuk perusahaan ini, menyerap ilmu darinya lalu menyumbangkannya ke Indonesia, baik sebagai karyawan di sini maupun dengan pindah ke perusahaan BUMN seperti PLN, siapa tahu akan jadi kontribusi bagi pembangunan di Indonesia. Ini membuat saya berpikir untuk memasukkan perusahaan ini ke list perusahaan yang akan saya apply ketika masa mencari kerja bulan Desember nanti.

PS. Thanks for Agyl Senpai for his hospitality.

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Year 2011 Keyword in Japan: Queuing!!

Especially for the new openings, be it for a pack of takoyaki (en:octopus dumpling), a new video game, signing session of idol group,even a pachinko (en:parlors), some Japanese people are ready to queue! No matter how many hours it take, whether it be a chilly rainy day in winter or a 40°C hot day of summer. Queuing is a natural part of life in Japan no matter where you live. To identify good stuffs or shops in japan is just as simple as looking for the ones with the longest queues.

Japanese Families Queuing Up In Train Station at Post-War

Queuing is a good tradition and reflects how discipline is a country. However, one of the saddest thing of 2011 is that infinite queuing becomes so much often in Japan, especially after the earthquake and tsunami disaster in March 11th.

A commonsense of Japanese people about abundance of materials ruins after that devastating disaster happened. People had to line up in hundred meters of line as early as midnight the night before to get supplies like toilet paper and gasoline as a severe shortage happened aftermath.

Aftermath Queuing Causes

In the middle of March, queues at petrol stations of up to two miles were seen in many places in East Japan, especially in Tohoku areas, the worst-hit areas. Due to the earthquake, some big oil refineries must be temporarily shut down as their standard operating procedure, and as a result, logistic network was down.

However, the case is different for daily supplies. The acute shortages are not caused by the consumption. Actually they are not out of stock. Factories in various regions operates as usual, and the stock is still sufficient in the warehouses. But a sudden high demand aftermath in the retailers (e.g. convenient stores), and there are people who want to save larger amount of supplies anticipating next earthquake, those actions result the acute shortage. Some people just queued in front of shops which even clearly  written “Closed”

massive queues for fuel in sendai

Queuing in front of Convenient Store in Sendai

You can check out some other pictures showing this kind of sad queues HERE

We especially my country, Indonesia, should learn from the Japanese. Amidst the heartbreaking devastation in Japan, social solidarity and discipline seems to be especially strong in Japan.  Long queues, but quiet and orderly. Without scrambling, without fighting, they just “automatically” form a line and queue patiently.

Queuing for an iPhone!

Beside sad queuing due to daily supplies shortage, in year 2011 there is a fun queuing in japan because of Apple’s new gadget, iPhone 4S. Japan was among the first countries to see the release of Apple’s new iPhone 4S, with fans queuing for up to 80 hours to be first in line. Recently I found a page showing some photos describing how Japanese people are crazy of the new iPhone 4S! Click HERE!!

Posted in All-About-Japan | Tagged , , | Leave a comment