“Dual Nature” dari Manusia

Dear pembaca, tahukah anda bahwa sisi bulan yang menghadap bumi selalu sama? Dengan kata lain, kita tidak pernah melihat sisi belakang bulan. Alasannya sih simpel. Periode revolusi (perputaran bulan mengelilingi bumi), lamanya sama persis dengan periode rotasi (perputaran sumbu bulan).

Figure 1 Coba anda ingat-ingat, kapan bulan terlihat berbeda dari ini?

Tapi kali ini bukan itu yang akan saya ceritakan. Saya hanya ingin kita sama-sama mengingat bahwa manusia pun tidak jauh berbeda dari bulan. Kita memiliki dua wajah. Wajah yang di depan yang selalu kita perlihatkan, dan satu lagi wajah yang selalu kita tutup rapat-rapat.

Mengenai hal itu, saya pernah mendengar sebuah cerita tragis. Bukan cerita tentang orang Indonesia, jadi Anda tidak perlu menebak siapa orangnya. Ada sebuah universitas di jepang yang mewajibkan mahasiswanya tinggal di asrama dalam kampus. Untuk universitas di Jepang, sistem ini adalah sistem yang sangat jarang. Umumnya, asrama hanya disediakan untuk segelintir siswa yang punya alas an kuat untuk diperbolehkan tinggal di asrama, seperti berprestasi, kurang mampu, atau mahasiswa asing.

Dampak dari sistem asrama itu, salah satunya adalah sangat mudah untuk membuat teman baik. Ya jelas saja lah. Saling bertengkar dengan teman sekamar yang harus tinggal di satu ruangan selama bertahun-tahun, sama dengan menyiksa diri sendiri. Alkisah, ada dua orang mahasiswa putri yang, dari luar kelihatan sangat akrab. Di kantin selalu makan bersama, di kampus, di kereta, intinya hampir setiap kali orang melihat, mereka selalu berdua.

Tak jarang– sebut saja– A menitip uang pada B untuk membelikan sesuatu untuk A sendiri, dan begitu juga sebaliknya. Katanya, pernah juga beberapa kali si-A meminta tolong pada B untuk mengambilkan uang di ATM, dengan kartu ATM milik A. Siapapun yang melihat, mereka berdua adalah sahabat sejati.

Sampai pada suatu saat, A mengaku kehilangan kartu ATM nya. Kalau saja dia ingat di mana dan kapan dia menghilangkan, tentu tidak ada masalah. Bertanya pada B, teman sejatinya itu pun bilang tidak tahu apa-apa.

“Untungnya” yang hilang saat itu adalah kartu ATM dan bukan uang tunai, jadi A bisa langsung melacak ke bank untuk menyetop kartu ATM nya. Tapi sayangnya sesampainya di bank, sekalipun kartunya bisa disetop, seluruh uang di rekeningnya sudah dalam keadaan dicairkan. Lemaslah lutut A.

Namun “Untungnya” lagi, di semua mesin ATM di Jepang dipasang security camera yang menangkap siapapun yang berada di depannya. Karena jangka waktu sejak penarikan terakhir hingga saat A melapor ke bank tidak terpaut lama, rekaman saat penarikan terakhir masih belum terhapus.

Usut punya usut, siapakah yang terakhir menarik seluruh uang A? Tak lain tak bukan, sang sahabat sejati, B lah yang tertangkap rekaman security camera.

A menerima shock yang luar biasa. Tak hanya karena uangnya yang diambil sahabatnya, tapi wajah yang dia lihat di rekaman security camera itu jauh berbeda dari wajah ramah sahabatnya selama bertahun-tahun itu. Raut wajah yang dingin.

Saya sendiri ketika mendengar cerita ini, merasa merinding, betapa menyeramkannya “dual nature” dari manusia itu. Tapi karena memang “nature”, saya agak ragu apa ada orang yang betul-betul HANYA menampakkan isi hatinya. Kalau ada, mungkin dia bisa naik awan kintoun seperti Son Goku di cerita Dragon Ball. Saya yakin di setiap orang ada hal yang disembunyikan pada siapapun, bahkan buku hariannya sendiri. Tapi inilah ciri yang menarik dari manusia, yang membuat mereka berbeda dari hewan.

Lha terus, apa yang harus kita perbuat? Apakah kita harus berperilaku seperti polisi yang berprinsip “Jika tidak ingin dikhianati, curigailah semua orang hingga orang yang paling tidak ingin kau curigai?” Kalau begitu, nantinya akan bertentangan dengan salah satu prinsip:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”(QS. Al Hujurat : 12)

Hmmm, berarti kita dihadapi pada “dual nature” yang baru, yaitu kepercayaan dan kecurigaan. Tapi sepertinya saya tak akan membahas lebih jauh. Ustadz-ustadz dan orang-orang bijak yang ada di sekitar anda mungkin memiliki jawaban yang lebih membuat anda mengangguk-angguk.

By the way, saya adalah orang kesekian yang mendengar cerita di atas, jadi walaupun inti dan hikmah ceritanya sama, mungkin detil cerita di atas sudah agak menyeleweng dari redaksi aslinya.

Advertisements

About chemieingenieur

Let me introduce myself. My fullname is Baharuddin Maghfuri. I was born in 1988 in the city of Magelang, Indonesia. I spent my early childhood until my highschool in that peaceful small city. After that I study in Bandung Institute of Technology for just one semester. I hope you don’t think I dropped out. Ministry of Education, Culture, Sport and Technology of Japan gave me a big opportunity to study in undergraduate program in japan. And now, I live in Japan, studying Chemical Engineering in Tokyo Institute of Technology. I hope everything will be alright and I’ll complete the undergraduate degree in 2011, then just continue onto Master Degree with qualification Chemical Engineering. Most of my interests are related with my study, photography, pop music and computers: - Chemical engineering in undergraduate level, such as Stoichiometry, Thermodynamics, Transport Phenomena etc. - Studying languages – I am able to communicate in English, Japanese, Indonesian. Now I’m trying to learn Germany. - I love to spend my free time hang out with my friends from Indonesia and taking pictures. - The C Programming and other codings also makes me happy and of course blogging at time to time. But nowdays, beside doing my interests, Indonesian community here asked me to work with them in some volunteer activities. The followings are some of them. You might find my name in their sites. 1. Kammi Jepang 2. PMIJ 3. PPI Tokodai 4. KMII Jepang and so on.
This entry was posted in Literature. Bookmark the permalink.

One Response to “Dual Nature” dari Manusia

  1. Lyta Liem says:

    Har, jadi kelanjutannya gimana? Si B ditangkap polisi nggak? Trus uangnya dikembaliin nggak? Trus gimana hubungan si A dan si B? Jadi retak atau tetap bersahabat atau gimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s