Sepotong dari Leonardo da Vinci

Beberapa waktu lalu, saya mengambil satu mata kuliah yang bisa dibilang “aneh”. Mata kuliah itu bernama 美術史と美術論 (Bijutsu-shi to Bijutsu-Ron, Sejarah dan Ilmu Seni), sebuah mata kuliah yang tak ada hubungannya dengan bidang saya Teknik Kimia. Di kelas ini kami dibeberkan kejayaan Renaissance di Negeri Italia, tepatnya di kota Firenze ( english: Florence). Saya ambil mata kuliah ini semata-mata karena menurut kabar angin yang beredar, cara mengajar Sensei ini menarik, berbeda dari tipikal Sensei di Titech yang ibarat obat bius bagi mahasiswa-mahasiswanya. Obat bius?? Ya, Sensei di Tokodai, terutama sensei mata kuliah humanity sangat ahli dalam membuat orang-orang di kelas beliau tertidur. Selain cara mengajar yang berbeda, saya juga penasaran karena Sensei ini masih muda (38 tahun) dan cukup populer di kalangan kaum hawa Titech. Dan benar, pelajaran sejarah yang sampai saya SMA saya rasakan sebagai momok, oleh Sensei ini disulap menjadi cerita-cerita mengagumkan, yang membuat kami yang mengambil kelasnya selalu menantikan cerita baru apa yang akan Sensei bagikan tiap minggunya.

Takagishi Akira Sensei

Salah satu yang saya suka adalah cerita beliau tentang riwayat salah satu dari The Three Great Masters, yaitu Leonardo Da Vinci. Sensei memulai ceritanya dengan kalimat, “Inilah contoh pekerja keras. Leonardo bukanlah jenius, tapi hanyalah seorang yang tak kenal menyerah.”

Tahun 1552, di kota kecil pegunungan bernama Vinci, Leonardo dilahirkan di luar nikah dari sperma seorang Notaris Piero Da Vinci dan rahim seorang wanita biasa Catherina. Catherina pergi meninggalkan Leonardo, dan diperkirakan lukisan legendaris Monalisa adalah lukisan Catherina. Dan bagiku, yang menarik adalah fakta bahwa orang-orang di sekitarnya tak menganggap Leonardo sebagai “anak yang terlahir dari dosa”, tetapi malah menganggapnya “anak yang terlahir dari cinta”. Sebuah contoh indah yang bertolak belakang dg kenyataan dewasa ini, di mana anak dari hubungan luar nikah dianggap sebagai “anak haram” yang mau tak mau harus ikut menanggung dosa orang tuanya.

Vinci Village

Leonardo dididik secara bebas oleh orang-orang di sekitarnya. Dia mengenali alam, “learning by doing” pada lingkungannya di desa petani Vinci. Dia pun kurang mendapat pendidikan, termasuk dari tempat Leonardo menumpang, yaitu kediaman kakeknya Antonio Da Vinci. Salah satu bukti bahwa dia tak mengenyam pendidikan adalah sampai dewasa, Leonardo menulis huruf dari kanan ke kiri, dan dia tumbuh dewasa dengan kemampuan verbal (bahasa) yang lemah. Dia memiliki ide-ide luar biasa, namun kadang sulit dipahami oleh orang-ide di sekitarnya. Kadang-kadang saja, ia pergi ke Bacchereto, desa tetangga untuk belajar seni gerabah. Belakangan ditemukan sebuah kursi segienam, yang diperkirakan adalah penemuan Leonardo di masa kecilnya selain selembar peta Vinci.

Map of Vinci that small Leonardo made

Advertisements

About chemieingenieur

Let me introduce myself. My fullname is Baharuddin Maghfuri. I was born in 1988 in the city of Magelang, Indonesia. I spent my early childhood until my highschool in that peaceful small city. After that I study in Bandung Institute of Technology for just one semester. I hope you don’t think I dropped out. Ministry of Education, Culture, Sport and Technology of Japan gave me a big opportunity to study in undergraduate program in japan. And now, I live in Japan, studying Chemical Engineering in Tokyo Institute of Technology. I hope everything will be alright and I’ll complete the undergraduate degree in 2011, then just continue onto Master Degree with qualification Chemical Engineering. Most of my interests are related with my study, photography, pop music and computers: - Chemical engineering in undergraduate level, such as Stoichiometry, Thermodynamics, Transport Phenomena etc. - Studying languages – I am able to communicate in English, Japanese, Indonesian. Now I’m trying to learn Germany. - I love to spend my free time hang out with my friends from Indonesia and taking pictures. - The C Programming and other codings also makes me happy and of course blogging at time to time. But nowdays, beside doing my interests, Indonesian community here asked me to work with them in some volunteer activities. The followings are some of them. You might find my name in their sites. 1. Kammi Jepang 2. PMIJ 3. PPI Tokodai 4. KMII Jepang and so on.
This entry was posted in Figures With Verbal Communication Problem, Sci-Tech and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s