Cerpen: Surat Untuk Ibu

Ini adalah cerpen pertama saya yang saya tulis di Negeri Sakura. Alhamdulillah, Ramadhan lalu, cerpen ini mendapat juara kedua. Yang membuat saya harus mawas diri, ternyata tata-bahasa di cerpen ini mendapat nilai yang kurang begitu memuaskan, jadi mungkin para pembaca pun harus bersabar untuk menyelesaikan membaca. Selamat Menikmati.

———————————————————————————————————————————————————

Perkenalkan, aku adalah seorang anak yatim. Ibu pernah cerita, ayah meninggal karena kecelakaan ketika aku berusia tiga tahun. Tak ada yang kuingat tentang ayahku selain selembar foto kami bertiga yang terpajang di atas televisi hitam putih di gubuk kami.

Kami berdua tinggal di sebuah rumah petak di belakang pasar. Kawasan tempat tinggal kami senantiasa hiruk pikuk dengan suasana pasar yang panas dan kotor. Untuk menafkahi kami berdua, ibu membuat kue-kue. Setiap pagi ia bangun jam tiga dini hari untuk membuat berbagai jajanan pasar. Ketika orang-orang lain termasuk aku masih tersesat di alam mimpi, ibu sudah harus menggoreng rempeyek dan membuat adonan kue dadar hijau. Setelah jadi, ibu harus menyetornya ke warung-warung dan ke pasar-pasar, dan kemudian ibu bekerja sebagai buruh pasar, dari pagi hingga petang. Di malam hari, selain mempersiapkan dagangan hari berikutnya, ibu harus memasak, mencuci baju-bajuku, dan mengurus rumah tangga. Begitulah ibuku setiap hari. Sambil merawatku, ia membanting tulang. Bagi dia, yang penting aku tetap bisa belajar, tanpa perlu menjadi anak jalanan seperti anak-anak tetangga lainnya.

Aku tahu bagaimana payahnya ibu menopang rumah tangga kami. Aku tahu, beliau selalu tidur larut malam dan bangun awal. Itu semua pasti demi aku. Tapi aku yang saat itu masih kelas 3 SD tetap merasa tak puas. Aku selalu berpikir, “Kenapa kami tetap miskin, padahal ibu malam demi malam, siang demi siang menguras tenaga hingga terlihat lebih tua dari usianya?”. Ibu tak pernah mengajakku ke taman bermain. Ibu tak pernah memberiku uang saku untuk bermain bersama teman-teman. Bahkan ketika TV butut kami rusak, ibu tak meng-servis-kannya selama setengah tahun lebih.

Aku sering marah pada ibu, Pelajaran agama dan kata-kata pak Ustadz tentang berbuat baik pada orang tua sering tak lagi menempel di kepalaku. Kerap kukatai dia, “Hei”, atau “ribut!”, dan sederetan kata-kata kasar lain. Seolah ibu kini menjadi pembantu tua yang tak berharga di mataku. Tapi ibu memang aneh. Betapa pun durhakanya diriku saat itu, ibu tak pernah sekalipun marah padaku. Ibu tak pernah terlihat mendoakanku celaka seperti cerita Malin Kundang. Ia juga tak mengurangi jatah makanku, tetap selalu menjahit bajuku setelah aku berkelahi atau jatuh, dan membangunkanku yang malas di pagi hari.

Ketika aku menginjak kelas 6 SD, aku dipercaya oleh sekolah untuk menjadi peserta lomba lari tingkat kecamatan. Bukan bermaksud pamer, begini-begini saraf olahragaku termasuk unggul dibanding kawan-kawan sebayaku. Ibu saat itu menyempatkan hadir. Aku tahu itu berarti ibu harus bekerja dua kali lebih keras di hari lain. Namun apa daya, aku kalah. Di daftar hasil lomba, namaku berada di urutan 6, sementara panitia hanya memberi hadiah untuk juara I,II,III, harapan I dan II. Aku sangat sedih dan marah. Tapi ketika kami pulang dan tiba di rumah, ibu membelaiku sambil berkata dengan lembut,”Ngga usah terlalu dipikirkan,nak. Kamu tetap hebat, kok.” Itulah kata-kata sakti ibuku. Selalu beliau ucapkan ke telinga kananku dan selalu aku keluarkan lagi lewat telinga kiriku.

Di sekolah, pun aku tak begitu pandai, bahkan boleh dibilang otakku termasuk yang tumpul. Nilai merah selalu tersenyum mengejek ketika aku membuka rapor-rapor semesterku. Namun ibuku memang aneh. Setiap melihat kertas hasil ulangan maupun raporku yang anjlok, kata-kata tadi sekali lagi terulang dibarengi dengan senyum diantara kerutan-kerutan wajah lelahnya.

“Ngga papa, kamu tetap hebat,kok”.

Dan langsung aku timpali, “Huh, apanya sih yang hebat? Ibu kan juga tahu aku tuh payah” . Namun kala itu ibu pun menjawab dengan halus tapi penuh percaya diri,

“Suatu saat kamu pasti akan tahu, bahwa kamu memang hebat, nak.”

***************************

Di bangku SMP, aku pernah sekali terlibat dalam tawuran dengan sekolah lain, dan apesnya aku tertangkap oleh kepolisian. Kala itu ibu disuruh datang, dan aku bisa melihat ibu memelas, memohon supaya para polisi membebaskanku. Dan di hari lain, saat aku sudah belajar di STM, sekali lagi aku berulah. Aku tertangkap basah bermain judi kartu di dalam lingkungan pagar sekolah. Dan lagi, ibuku datang, memelas, memohon supaya aku tetap dibiarkan sekolah di STM negeri itu. Mana ada sekolah yang mau menerima siswa yang pernah dikeluarkan gara-gara berjudi.

Namun hari itu agak berbeda. Hari itu, dengan penuh keprihatinan, Guru BK STM ku berkata pada ibuku.”Saya pikir, sebab anak ibu menjadi nakal seperti ini ada hubungannya dengan keadaan rumah tangga. Jadi mari kita bicarakan solusinya, bu.”, kata Guru BK. Seketika air muka ibuku berubah total. Dengan muka marah, dia berkata pada guruku, “Anak ini bukan anak nakal, pak!”. Mendengar suara ibuku, si Guru BK kehilangan kata-kata, dan Ibuku pun melanjutkan, “Apa yang diperbuat anak saya memang salah. Tanggung jawab itu juga ada di tangan saya sebagai orang tua. Tapi, tetap saja tak ada alasan menyebut anak ini anak nakal.” Aku yang dari tadi mendengarnya seperti merasa ditampar. Sekuat tenaga aku menahan air mata agar tak keluar dari pelupukku ini. Ibuku telah membuktikan kata-katanya, dia menganggap aku anak hebat. Dan hari itu, setelah tiba di rumah,aku mengunci kamar, dan menangis sejadi-jadinya.

Keesokan harinya, aku mulai mencoba mengubah diri. Aku berhenti merokok dan berpisah dari teman-teman anak nakal di sekolahku. Tapi ketidakcocokanku pada sekolah membuatku keluar dari STM, dan seperti biasa ibuku menghiburku,

“Ngga papa, kamu tetap hebat,kok”.

Sejak keluar dari STM, aku bersumpah pada diriku sendiri untuk terus fight demi ibuku tercinta ini. Aku masuk ke sebuah bengkel las yang cukup besar, dan ada cukup banyak karyawan di sana. Saat-saat awal aku bekerja benar-benar saat tersulit bagiku. Aku yang memang dasarnya kurang pandai harus mengingat begitu banyak hal. Sering sekali aku dibodoh-bodohi oleh atasan karena mengulang kesalahan pengelasan yang sama berkali-kali. Entah bengkok, entah retak, ada saja masalah yang timbul. Namun ketika merasa down, di hatiku seolah-olah ibuku berkata,

“Ngga papa, kamu tetap hebat,kok”.

Kalimat itu benar-benar sakti, setidaknya bagiku. Begitu teringat kata-kata ibuku yang semakin tua itu, rasa takut, rasa lelah, dan rasa malu pun sirna. “Pokoknya aku harus buktikan bahwa ibuku benar. Bahwa aku memang hebat!!!”, begitu pikirku, dan jika sudah seperti itu, pekerjaan apapun aku selesaikan.

Enam bulan sudah aku bekerja di bengkel las ini. Semangatku yang menggebu-gebu membuat hasil pekerjaanku akhirnya diapresiasi oleh atasan. Bahkan hasil lasku pernah dipuji secara langsung oleh perwakilan dari perusahaan pusat dari negeri Sakura yang sedang mengadakan kunjungan ke bengkel lasku. Konon mereka berencana men-training beberapa karyawan ke Jepang. Itu mimpi setiap dari kami para karyawan.

Atas keaadaan ini, aku bersyukur pada Tuhanku, dan berterimakasih pada ibuku yang sampai hari ini terus menyemangatiku. Ngomong-omong, ibuku sekarang masih melakukan kerjaan yang sama. Membuat kue, menyetornya ke warung-warung, dan menjadi buruh pasar. Sudah kubilang gajiku cukup untuk hidup kami berdua, tetapi ibu tetap bersikeras bekerja. Ibuku memang aneh.

*****************************

Suatu hari, ketika pekerjaan selesai dan aku sedang bersiap-siap untuk pulang, salah seorang manager yang aku kenal menghampiriku dan member berita, “Ibumu terkena kecelakaan. Segeralah pergi ke RSU.” Bagai disambar petir, aku berlari sekuat tenaga melewati jalan pintas menuju RSU yang berjarak 1.5 km dari bengkel. Tak ada waktu untuk menunggu angkutan umum yang datang setiap 15 menit sekali. Aku ingin bertemu ibu.

Setibanya di UGD RSU, lututku lemas. Yang kulihat hanyalah jasad ibuku yang sudah ditutup kain putih. Aku yang pernah kalah dalam lomba lari dulu waktu SD, harus kalah lagi atas malaikat maut yang mencabut nyawa ibuku. Aku menangis sejadi-jadinya.

**********************************

Atasanku berkata,

“Kore, yousetsu shite ne. Owattara kaette ii yo.” (Tolong laskan yang ini. Kalau sudah, baru boleh pulang.)

Haik.

Aku segera menyelesaikan tugas itu, yang juga berarti pekerjaan terakhirku hari ini, Setelah kubereskan, aku pun bergegas pulang.

Hari ini pertengahan bulan Ramadhan. Teman-teman sesama trainee Indonesia yang tak bisa pulang kampung biasa menulis surat untuk orang tua mereka, atau menelepon keluarga. Tapi aku lain. Di jalan pulang, aku berhenti di sebuah taman dan duduk di sebuah bangku. Tanganku merogoh tas pinggangku, dan dari situ aku ambil selembar amplop. Di sampulnya tertulis, Untuk Ibu. Kuambil selembar A4 dari dalam amplop itu, kubaca lagi isinya untuk ke sekian kalinya.

Kepada Ibu

Ibu, apa kabar? Bagaimana keadaan di alam sana? Apakah menyenangkan? Tentu aku selalu berharap begitu. Aku selalu berharap ibu menerima janji Allah untuk mendapatkan penghidupan yang layak setelah mati, sebagai balasan atas kebaikan-kebaikan ibu yang luar biasa kepadaku

Ibu, setelah kematian ibu tepat 4,5 tahun lalu, maaf, aku lancang membuka buku harian ibu. Aku sedikit kaget. Di situ tertulis bahwa teryata engkau bukan ibu biologisku. Kau tulis juga bahwa ibuku yang asli telah meninggal tepat ketika aku dilahirkan, dan sebagai adik ibu asliku, bersama suamimu kalian berdua bertekad membesarkan aku. Dari kalimatmu, engkau juga sepertinya berencana memberitahukan hal itu kepadaku pada saat yang tepat.

Tapi ibu, sekalipun engkau bukan ibu biologisku, sebenarnya aku ingiiin sekali mengatakan ini langsung kepadamu,

“Ibu memang bukan ibu biologisku, tapi ibu tetap ibuku”

Untuk diriku yang nakal dan durhaka itu, ibu rela bekerja keras dari pagi hingga tengah malam. Ibu juga selalu dan selalu bilang,”Kamu tetap hebat,kok” di kala aku jatuh. Ibu tahu,kan, betapa kalimat itu telah menyokongku hingga kini??

Ibu, tahu tidak? Setengah tahun setelah kematian ibu, aku diberi anugerah oleh Tuhan untuk bisa ikut training di negeri Sakura selama tiga tahun. Dalam tiga tahun ini aku benar2 bekerja keras, dan aku telah memperoleh beberapa penghargaan atas lasku yang kualitasnya melebihi hasil kerja orang Jepang. Aku bertekad bahwa kemampuan ini akan aku ajarkan pada junior2ku di tanah air. Aku juga sudah menikah dengan seorang gadis jepang dan diantara kami berdua ada seorang anak perempuan yang lucu bernama Hikari. Aku berharap dia menjadi hikari (cahaya) sebagaimana ibu juga telah menjadi cahaya bagiku.

Aku telah tumbuh dewasa, ibu. Sebenarnya aku ingin ibu melihat diriku yang sekarang, dan aku ingin mendengar kata2 itu lag dari mulut ibu,

“Kamu tetap hebat”

Kata2 itu sama sekali bukan dusta, bu. Sayang sekali ibu tak bisa menyaksikan buktinya sekarang. Tapi yang jelas, itu berkat doa dan semangat dari Ibu. Kata2 “Kamu tetap hebat” sampai sekarang terus aku pakai, untuk memberi semangat anakku, istriku, dan rekan-rekan kerjaku

Terima kasih ibuku, engkau bukan ibu biologisku, tetapi engkau tetap ibuku

Wassalam

Kulipat kembali surat itu, kumasukkan lagi ke dalam amplop. Dari jauh, terlihat istri dan anakku yang memang berjanji menjemputku di akhir minggu ini. Rencananya, kami akan ikut ke acara buka puasa di SRIT (Sekolah Republik Indonesia Tokyo). Tangan-tangan mereka melambai-lambai ke arahku. Kubalas dengan senyuman, sambil bergumam pelan,

“Ibu, inilah anakmu yang hebat”

Advertisements

About chemieingenieur

Let me introduce myself. My fullname is Baharuddin Maghfuri. I was born in 1988 in the city of Magelang, Indonesia. I spent my early childhood until my highschool in that peaceful small city. After that I study in Bandung Institute of Technology for just one semester. I hope you don’t think I dropped out. Ministry of Education, Culture, Sport and Technology of Japan gave me a big opportunity to study in undergraduate program in japan. And now, I live in Japan, studying Chemical Engineering in Tokyo Institute of Technology. I hope everything will be alright and I’ll complete the undergraduate degree in 2011, then just continue onto Master Degree with qualification Chemical Engineering. Most of my interests are related with my study, photography, pop music and computers: - Chemical engineering in undergraduate level, such as Stoichiometry, Thermodynamics, Transport Phenomena etc. - Studying languages – I am able to communicate in English, Japanese, Indonesian. Now I’m trying to learn Germany. - I love to spend my free time hang out with my friends from Indonesia and taking pictures. - The C Programming and other codings also makes me happy and of course blogging at time to time. But nowdays, beside doing my interests, Indonesian community here asked me to work with them in some volunteer activities. The followings are some of them. You might find my name in their sites. 1. Kammi Jepang 2. PMIJ 3. PPI Tokodai 4. KMII Jepang and so on.
This entry was posted in All-About-Japan, Literature and tagged , . Bookmark the permalink.

13 Responses to Cerpen: Surat Untuk Ibu

  1. mat-asri says:

    Subarashii..お母さんに対する愛をこめたいいストリーですね。

    Dapet juara 2 ya har..Mantabh, lomba adzan juara satu, cerpen juara 2..Kayaknya ukhti sebelah makin kagum sama kamu har ^_^..huehehehe

    Lanjutkan har! di pos di website midori dong : )

    M.Asri
    *chinamini, juara satunya siapa har?

  2. chemieingenieur says:

    Wahahah…jazakallah khair udah mampir ke “humble blog” punya saya mas Asri. Isinya lebih banyak omong kosong ^_^

    Betul, mas. Alhamdulillah ukhti saya (sekarang kelas 3 SMP) masih kagum sama sy. Doakan saya smoga selalu jadi kakak yg baik.
    *jawaban diplomatis*

    Oh,ya juara satunya adek dari SRIT

  3. owk says:

    widiw,,,juara 2 oy, ini kan cerpen yang dulu baha posting di mp? sukses terus bwt baha. Bdw, mana fbmu?

    • chemieingenieur says:

      Iya ni wek, kemaren pas Romadhon aku coba ikut-ikutan lomba cerpen, eh ngga taunya dapet. Yang di MP dulu aku edit-edit. Abis, grammarnya ngaco abis (sekarang masih kacau sih ^^)

      FB ku udah aku deactivate wek, susah nih ngatur waktunya. FB owek udah dipake lagi ya…?

      • owk says:

        oalah, pake grammar juga toh….hehe
        ya belom diaktipin, cm kmrn mo liat info kul aq smpet aktifin fb…trus aq liat baha suda raib.
        Baha fbnya ditutup temporer ato selamanya?

      • chemieingenieur says:

        FB ku ditidurin sementara aja…abis ga tau gimana caranya deactivate scr permanen sih ^_^);

        Hidup “hidup-tanpa-FB”!!!

        Oh, iya…mumpung skrg baru inget, mo ngucapin Happy Birthday H-14 ya wek… Moga cepet nikah,hahahha.

        Doakn sy juga ^_^

      • owk says:

        oiya, mau birthde….lupa e bah aq.
        Trimakasi, baha….
        baha jg sukses ya….smoga cepet nikah juga (bareng ni jgn2?!)

  4. fakhria says:

    Oalah… jadi ini cerpen kamu to ?
    perasaan udah pernah dipublish, tapi dulu alisku berkerut, bertanya-tanya ” ini bahar ngopi cerpen dari mana yak? ini kisahnya Bahar ya? emang Bahar udah nikah ya?” hahahahahaha

    Oke juga ni cerpennya..
    ditunggu edisi selanjutnya Bahar,,

    • chemieingenieur says:

      Iya fa….ini cerpen sy. Ini ga sepenuhnya fiksi lho, jangan salah……

      Sip, fa…rajin-rajin aja visit blog sy. Moga-moga cerita selanjutnya segera release.

  5. wah mantab bung Bahar..

    “ketika tidak ada yang mengerti atas apa yang disebut cinta, karena sejatinya cinta itu tidak dapat dijelaskan dengan kata – kata, maka Ibu lah menjadi tabir terindah akan makna cinta terdekat yang dapat kita rasakan secara nyata di muka bumi ini”

    Bergetar hati ini membaca tulisan bung Bahar

    Teruntuk ibu :
    inilah anakmu yang tak pandai mengapresiasi Cinta mu, terpejam dari sinar kasihmu, hingga tersadar betapa perih-indah ini kau sajikan untukku. Namun sesungguhnya saat ini apa yang kuperbuat adalah untuk membanggakanmu

  6. your friend says:

    nice…..

    pengen ketemu ibuuuuuuuuuu…………..

  7. alin says:

    maaf boleh ga inu saya print buat tugas sekolah? tapi di tulis sumbernya kok. boleh ya? hehe makassih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s